Pengertian Serta Perbedaan FOB Shipping Point dan FOB Destination

Terdapat pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi pembelian dan penjualan barang dagang. Pihak-pihak yang terlibat tersebut dapat mengajukan syaarat-syarat yang sebelumnya telah disepakati bersama antara kedua belah pihak.

Adapun syarat yang sudah disepakati antara penjual dan pembeli itu umumnya adalah mengenai syarat penyerahan barang dalam hal ini pnegiriman, maupun syarat pembayaran barang atau pelunasan transaksi.

Nah, pada kesemptan kali ini akuntanonline.com akan membahasa mengenai syarat-syarat dalam penyerahan barang dagang. Adapun syarat-sayat penyerahan itu adalah sebagai berikut :

Pengertian FOB atau Free on Board Shipping Point

Pengertian  FOB Shipping Point adalah bahwa biaya angkut atau ongkos kirim barang dagan dari gudang penjual menuju gudang pembeli menjadi tanggung jawab dari seorang pembeli barang tersebut. Sehingga kepemilikan barang telah menjadi hak pembeli meskipun barang masih berada ditempat penjual.

Manakala terjadi sebuah pembelian barang dari penjual dan seandainya barang tersebut masih ada dalam perjalanan menuju ketempat pembeli, maka barang yang sedang dalam perjalanan tersebut adalah barang milik pembeli.

Meskipun pada saat tutup buku pada siklus akuntansi pihak pembeli, barang tersebut belum diterima, maka barang tersebut harus dicatat dalam  akun persediaan atau sudah masuk sebagai persediaan.

Pengertian FOB atau Free on Board Destination Point

Kebalikan dari FOB Shipping Point, jika pada FOB Shipping Point ongkos kirim menjadi tanggunangan si pembeli, maka pada FOB Destination Ongkos kirim atau biaya angkut menjadi tanggungjawab si penjual barang dagang tersebut.

Sehingga kepemilikan barang menjadi hak  pembeli manakala barang tersebut sudah diterima oleh si pembeli.

Apabila terjadi pembelian barang dagang, dan ternyata barang tersebut masih dalam perjalanan ke tempat si pembeli, maka barang tersebut masih milik si penjual.

Ini menjadi sebuah catatan penting dalam pencatatan akuntansi nya, karena jika pada saat akhir tahun buku barang tersebut belum diterima, maka nilai barang tersebut tidak boleh dimasukan dalam catatan akuntansi sebagai persediaan barang oleh perusahaan pembeli pada nerca akhir tahun.

Cost, Insurance, and Freight atau CIF

Adalah pihak penjual yang menanggung semua biaya pengiriman barang dan premi asuransi kerugian atas barang tersebut.

Cost, Insurance, and Freight Inclusive Commission atau CIFIC

Merupakan pihak  penjual sebagai penanggung atas seluruh biaya pegiriman barang, premi asuransi kerugian lengkap dengan tanggungan baiaya komisi atas barang tersebut.

Syarat Pembayaran Barang Dagang

Adapun dalam perjanjian jual beli barang dagang terdapat beberapa sayarat pembayaran, syarat-syarat tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

  • Tunai atau Kontan

Pembayaran tunai atau kontan adalah pembayaran yang berlangsung saat terjadinya transaksi. Baik pembayaran tersebut melalui cek atau giro bilyet maupun secara langsung atau dengan uang tunai.

  • Neto/30 atau n/30

Maksud dari n/30 ini adalah bahwa pembayaran harus dilakukan paling lambat 30 hari setelah terjadinya transaksi akad jaul beli barang dagang.

  • n/EOM atau End of Month

artinya pembayaran paling lambat adalah akhir bulan saat terjadinya transaksi.

  • n/10 EOM

memiliki arti pembayaran harus dilakukan paling lambat 10 hari setelah akhir bulan.

  • 2/10, n/30

Maksud dari 2/10, n/30 ini adalah apabila pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dilakukan kurang atau sama dengan 10 hari setelah tanggal terjadinya transaksi, maka pembeli mendapatkan potongan sebesar 2% dan jangka waktu kredit selama 30 hari.

Sekian penjelasan dari akuntanonline.com mengenai “syarat penyerahan dan pembayaran barang dagang”, semoga bermanfaat dan menambah wawasan para pemabaca sekalian.

Dan terimakasih karena telah berkunjung ^^.

Kunjungi artikel lainnya: