Pengertian, Syarat, Rukun, dan Contoh Mudharabah

Berdasarkan ulama fiqih kerjasama kata “Mudharabah”  atau perniagaan sering juga disebut dengan “Qiradh”. [1] atau memotong. Hal ini karena seorang pemilik modal memotong sebagian hartanya agar diperdagangkan dengan harapan memperoleh sebagian keuntungan. [2]

Asal kata mudharaba adalah dharb, yang artinya memuluk atau berjalan. Istilah memukul dalam bidang ekonomi Islam adalah proses memukulkan kakinya dalam menjalankan usahanya. (Baca juga : Pengertian Rekonsiliasi Bank dan Contoh Soal Rekonsiliasi Bank)

Sedang secara istilah mudharabah merupakan akad kerja sama usaha antara dua pihak. Yakni antara pihak pemilik modal (pihak pertama) yang menyediakan seluruh modal atau dana usaha, dengan pihak kedua atau sebagai pihak pengelola dana. Kemudian keuntungan usaha dibagai sesuai kesepakatan antara kedua belah pihak, dan apabila terjadi kerugian finansial maka kerugian tersebut akan ditanggung oleh pihak kedua atau sebgai pihak pengelola dana. [3]

Pengertian Mudharabah Menurut 3 Madzhab

Dibawah ini adalah uraian penjelasan pengertian mudharabah menurut ulama 3 madzhab :

  1. Madzhab Hanafi

Imam Hanafi menjelaskan mudharabah adalah sebuah akad atas syarikat dalam keuntungan dengan cara penyerahan sejumlah mata uang tunai kepada pengelola dana dari pemilik dana, dengan harapan mendapatkan sebagian dari keuntungannya apabila diketahui dari jumlah keuntungannya.

  1. Madzhab Syafi’i

Menurut Imam Syafi’i mudharabah adalah suatu akad yang isinya tentang penyerahan modal kepada pihak lain, dengan maksud agar melaksanakan usaha dan kemudian keuntungan yang dihasilkan akan dibagi antara mereka berdua sesuai dengan kesepakatan yang sudah disepakati sebelumnya. (Baca juga : Pengertian BUMN dan BMS Lengkap Dengan Kelebihan dan Kekurangannya)

  1. Madzhab Hambali

Iman Hambali menjelaskan mudharabah adalah pemberian modal tertentu dengan jumlah yang jelasa seacra keseleruhan kepada orang yang mau melakukanusaha dengan memperoleh bagian tertentu dari hasil keuntungan usaha tersebut. [4]

Jadi, dari penjelasan ke tiga madzhab tersebut kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa mudharabah merupakan sebuah akad kerjasama usaha antara pihak pertama atau pemilik modal (shahibul maal) dengan pihak kedua atau sebagai pihak pengelola modal (mudhrib).

 Dimana keuntungan atau kerugian dibagi menurut kesepakatan antara kedua belah pihak saat sebelum dilaksanakannya akad. Sebagai sebuah catatan, apabila kerugian yang dialami adalah akibat dari kelalaian si pengelola dana (mudharib) maka kerugian menjadi tanggung jawabnya. (Baca juga : Contoh dan Perbedaan Lembaga Keungan Bank dan Non Bank)

Namun apabila kerugian yang terjadi akibat dari adanya bencana alam maka kerugian akan ditanggung bersama antara pemilik modal dengan penerima modal sesuai dengan akad yang sudah disepakati bersama.

Macam-Macam Mudharabah

Ulama fiqih membagi akad mudharabah kedalam dua jenis, hal ini dilihat dari segi transaksi yang dilakukan antara shahibul maal dan mudharib :

1.Mudharabah Al – Mutlaqah

Pengertian dari mudharabah mutlaqah adalah penyertaan modal dengan tanpa syarat. Maksudnya adalah penerima modal usaha atau mudharib bebas mengalokasikan modal usahanya utuk melakukan usaha apa saja sesuai dengan keinginannya demi mendatangkan keuntungan.[5]

Sedangkan keuntungan maupun kerugiannya dibagi menurut kesepakatan yang telah disepakati antara kedua belah pihak. Catatan pentingnya adalah bahwa usaha-usaha yang dilakukan bukan usaha-usaha yang bertentangan dengan syariat Islam. Seperti misalnya pembangunan diskotik dan lain-lain. (Baca juga : Contoh Format Penyususan Laporan Laba Rugi)

2.Mudharabah Muqayyadah

Mudharabah muqayyadah merupakan penyertaan modal yang dilengkapi dengan syarat-syarat tertentu. Artinya tidak semua jenis usaha bisa dijalan dengan modal usaha dengan menggunakan akad tersebut.

Jadi, hanya usaha yang telah ditentukan sebelumnya dalam perjanjuan yang boleh dikelola. [6]

Teknis mudharabah muqayyamah dalam dunia perbankan adalah terjadinya akad kerjasam antara shahibul maal dengan bank. Dimana modal yang diterima dari shahibul maal dikelola oleh pihak bank untuk kemudian diinvestasikan kedalam proyek yang sudah ditentukan oleh pemilik modal.

Sedangkan hasil keuntungan yang diperoleh dibagi berdasarkan nisbah kesepakatan yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak. (Baca juga : Ciri-ciri Ekonomi Kapitalis dan Liberal)

Adapun contoh dari produk Mudharabah Muqayyadah adalah :

  1. Mudharabah Muqayyadah On Balance Sheet atau investasi terikat, merupakan pengelolaan dana yang mempunyai sayarat yang menyebabkan mudharib hanya bisa melakukan mudharabah di bidang tertentu, waktu, cara, dan tempat tertentu saja. [7] Jenis mudharabah ini merupakan jenis simpanan khusus istilah bahas inggris nya “restricted investment”  yakni pemilik dana menentukan syarat yang harus di patuhi dan taati oleh pihak bank. Contohnya seperti disayaratkan untuk jenis usaha tertentu dan atau nasabah tertentu
  2. Al Mudharabah Muqayyadah Of Balance Sheet, merupakan jenis mudharabah yang penyerahan dana usahanya langsung kepada pelaksana usaha. Dimana posisi bank hanya sebagai pernatara yang mempertemukan antara shahibul maal (pemilik modal) dengan mudharib (pengelola) atau pelaksana usaha.

Pemilik modal usaha juga dapat menentukan syarat dalam mencari kegiatan usah apa yang akan dibiayai yang harus dicari oleh bank dengan kriteria yang sesuai. [8] (Baca juga : Ciri-Ciri Pasar Monopolistik )

Syarat-Syarat Mudharabah

Adapun berjalanya akad mudharabah haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  1. Masing-masing dari kedua belah pihak memenuhi persyaratan kecakpan wakalah.
  2. Modal usaha (ra’s al-mal) haruslah jelas jumlahnyaa. Bukan barang dagang, yang artinya harus berupa harga tukar (tsaman) dan penyerahan modal usah harus tunai seluruhnya kepada pengusaha.
  3. Sebelum adanya pembagian keuntungan milik bersama, bagihasil keuntungan dan waktu pembagiannya harus disepakati bersama dan dinyatakan dengan jelas.
  4. Modal usaha yang sudah diserahkan oleh shahibul maal kepada mudharib akan dikelola oleh mudharib tanpa adanya campurtangan dari pihak shahibul maal atau pemiik modal.
  5. Kerugian akan ditanggung sepenuhnya oleh pemodal. Mudharib pun mengalami kerugian meskipun bukan dari segi modal, melainkan dari hasil kerjanya.
alur akad mudharabah

Rukun-Rukun Mudharabah

Akad mudharabah akan terlaksana manakala terpenuhi semua rukun-rukunya. Adapun rukun dari pelaksanaan akad mudharabah dikelompokkan kedalam 4 rukun, dan berikut ini adalah ke 4 rukun tersebut lenegkap dengan penjelasanya :

  1. Adanya Shahibul Maal dan Mudharib

Pada dasarnya rukun terlaksananya akad mudharabah sama dengan rukun jual beli, hanya saja ada penambahan satu faktor yakni adanya nisbah atau bagi hasil keuntungan.

Transaksi akad mudharabah melibatkan dua pihak, pihak pertama sebagi pemberi modal atau shahibul maal sedankan pihak kedua adalah sebagai pihak penerima modal usaha atau mudharib. (Baca juga : Contoh Jurnal Penyesuaian Perusahaan Dagang)

Jadi, terjadinya akad mudharabah ini akan terlaksana apabila kedau belah pihak ini bertemu dan saling sepakat melakukan akad mudharabah.

  1. Obyek Mudharabah (modal dan kerja)

Faktor berikutnya adalah konsekuensi dari tindakan yang dilakukan pelaku. Diaman pihak pemberi modal (shahibul maal) menyerahkan modal sebagai obyek mudharabah kepada pihak yang memiliki keahlian kerja (mudharib) sebagai obyek mudharabah.

  1. Adanya Persetujuan Antara Kedua Belah Pihak atau Ijab dan Qabul

Kesepakatan antara kedua belah pihak kemudai  diikat dalam sebuah akad ijab dan qobul,  dengan menyepakati prinsip sama-sama rela “an-taroddin minkum”. Yang mana kedua belah pihak saling sepakat untuk sama-sama saling mengingatkan terikat dalam akad. (Baca juga : Contoh Soal Elastisitas Permintaan dan Penawaran)

Dimana si pemilik modal (shahibul maal) menyepakati tugasnya sebagai penyedia dana/modal, dan  mudharib pun sama sepakat dengan mengoptimallkan keahlianya dalam mengelola dana/modal usaha tersebut.

  1. Nisbah atau Bagi Hasil Keuntungan

Rukun yang terakhir yakni nisbah. Nisbah merupakan rukun yang tidak ada dalam akan jual beli namun menjadi sebuah ciri khas pada mudharabah. Nisbah menggambarkan imbalan yang berhak diterima oleh pihak-pihak yang terikat dalam akad mudharabah.

Yakni imbalan bagi shahibul maal sebagai penyedia modal usaha dan imbalan bagi mudharib sebagai pengelola dana usaha. Yang mana dengan nisbah atau bagi hasil keuntungan ini, diharapkan  bisa mencegah kedua belah pihak dari perselisihan atau selisih paham. (Baca juga : Macam-maca Jenis Strategi Pemasaran)

Nisbah bagi hasil bisa ditentukan dengan perbandingan, seperti misalnya 50:50, 60:40, dan atau 70:30.

Dimana biasanya pengelola modal usaha mendapatkan nisbah lebih besar dari pemberi modal.  Namun semua itu kembali lagi kepada bagai mana akad awal sebelum terjadi transaksi akad mudharabah tersebut.[9]

 Nah, demikianlah penjelasan dari kami mengenai “Pengertian, Syarat, Rukun, dan Contoh Mudharabah”. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan keilmuan para pembaca sekalian. Jangan lupa like dan share ^^

Berikut ini adalah beberapa sumber buku referensi dari catatan kaki yang kami sematkan dalam artikel :

[1] Abdullah Rahman Al Jaziri, Kitabul Fiqh „alal Madzahibil Arba‟ah, Juz 3, Beirut: Daarul Kutub Al „Ilmiah, h. 34.
[2] Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Jilid 3, Riyad: Daarul Muayyad, 1997, h. 220.
[3] Dwi Suwiknyo, Kompilasi Tafsir Ayat-Ayat Ekonomi Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009, h. 181.
[4] Muhammad, Teknik Bagi Hasil Keuntungan pada Bank Syari‟ah, Yogyakarta: UII Press, 2004, h. 37.
[5] Mansur, Seluk Beluk Ekonomi Islam, Salatiga: STAIN Salatiga Press, 2009, h. 83.
[6] Mansur, Seluk …, h. 84.
[7] Adiwarman Karim, Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan, Edisi 1, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004, h. 36
[8] Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syari‟ah, Yogyakarta: Ekonisia, 2004, h. 60.
[9] Adiwarman Karim, Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan, Edisi 1, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004, h. 182.

Tinggalkan komentar