Macam-Macam Jenis Manajemen Risiko Pada Bank Syari’ah

Bisnis atau usaha merupakan suatu aktivitas yang akan selalu berhadapan dengan risiko dan  return. Tak ubahnya bank syari’ah yang merupakan bagian dari unit usaha atau bisnis, maka dengan demikian bank syari’ah akan menghadapi risiko manajemen dari bank itu sendiri.

Bahkan bila kita cermati lebih mendalam, bank syari’ah merupakan bank yang sarat akan berbagai jenis risiko. Karena dalam prakteknya bank syari’ah berhubungan dengan produk-produk yang mengandung banyak risiko, seperti misalnya produk mudharabah.

Belum lagi risiko akibat dari ketidak jujuran atau kecurangan para nasabah dalam melakukan transaksi. Oleh karena itu para pejabat bank syari’ah harus mampu mengendalikan kemungkinan risiko yang muncul seminimal mungkin dalam rangka untuk memperoleh keuntungan yang optimal.

Namun demikian, meskipun manajer bank telah berusah untuk menghasilkan keuntungan setinggi-tingginya, secara simulutan mereka juga harus memperhatikan akan adanya kemungkinan risiko yang timbul dari keputusan-keputusan manajemen tentang struktur aset dan liabilitasnya.

Dilihat dari spesifiknya risiko-risiko yang akan menyebabkan terjadinya variasi tingkat keuntungan dari sebuah bank adalah terdiri dari risiko likuiditas, risiko kridit, risiko tingkat bunga, dan risiko modal.

Bank syari’ah tidak akan menghadapi risiko risiko tingakt bunga, hal ini karena pada bank syari’ah tiadak menggunakan sistem bunga melainkan menggunakan sistem bagi hasil dalam kegiatan usahanya.

Namun demikian, adanya dual banking system dapat mempengaruhi bank syari’ah. Dimana kehadiran sistem tersebut apabila melakukan peningkatan suku bunga di pasar bank konvensional dapat menyebabkan meningkatnya risiko likuiditas. Akibat dari banyaknya nasabah yang menarik dananya pada bank syari’ah yang kemudian beralih ke bank konvensional.

3 Macam Jenis Manajemen Risiko Bank Syari’ah

  1. Risiko Modal atau Capital Risk

Unsur pertama dari manajemen risiko yang berhubungan dengan perbankan adalah risiko modal atau capital risk yang merefleksikan tingkat leverage yang dipakai oleh pihak bank. Salah satu fungsi dari modal itu sendiri adalah untuk melindungi para penyimpan dana terhadap kemungkinan terjadinya kerugian pada bank.

Jumlah modal yang diperlukan untuk dapat melindungi para penyimpan dana pada bank berhubungan dengan kualitas serta risiko dari aset bank itu sendiri.

Dalam prakteknya aset bank dikelompokkan kedalam dua jenis aset, yakni aset yang kurang berisiko dan aset yang berisiko. Aset berisiko adalah jenis aset yang tidak terbatas hanya pada investasi atau pembiayaan yang tidak dijamin oleh pemerintah.

Sedangkan aset yang tidak berisiko termasuk didalamnya tapi tidak terbatas pada surat-surat berharga pemerintah atau investasi dan pembiayaan yang sudah dijamin oleh pemerintah.

Risiko modal berkaitan erat dengan kualitas aset. Dimana bank yang menggunakan sebagian besar dananya digunakan untuk mendanai aset yang beresiko maka perlu memiliki sebuah modal penyangga yang sebagai sandaran apabila kinerja dari aset-aset itu tidak baik. Tingkat modal juga penting sebagai sebuah penyangga dari risiko likuiditas.

Sumber-sumber dari risiko yang berkaitan dengan dunia perbankan dapat kita jumpai seperti akibat dari kehilangan karena tindakan pencurian, perampokan, penipuan atau kecurangan. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pihak manajemen harus mengasuransikan beberapa jenis risiko tertentu serta menerapkan sistem pengawasan untuk kemudian melindungi kerugian-kerugian tersebut.

  1. Risiko Kredit

Risiko kredit muncul akibat dari apabila bank tidak dapat memperoleh kembali cicilan pokok dana atau bunga dari pinjaman yang diberikanya, atau investasi yang sedang dilakukannya. Penyebab utama dari risiko kredit ini adalah karena terlalu mudahnya bank memberikan pinjaman atau melakukan investasi karena terlalu dituntut untuk memanfaatkan kelebihan likuiditas, yang mana hal tersebut mengurangi penilaian kredit kurang cermat dan hati-hati dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan risiko usaha yang sudah dibiayainya.

Risiko kredit ini akan semakin nampak makala perekonomian suatu negara sedang dilanda krisis atau resesi. Adanya krisi akan berdampak pada turunya tingkat penjualan pada perusahaan yang kemudian mengakibatkan berkurangnya penghasilan perusahaan tersebut, yang kemudian perusahaan tersbut mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajiban dalam membayar hutang.

Kemudian hal ini semakin diperberat dengan meningkatnya tingkat bunga. Saat bank akan mengeksekusi kridit macetnya, bank tidak mendapatkan hasil yang memadai karena jaminan yang ada tidak sebanding dengan jumlah besaran kredit yang diberikannya.

Hal tersebut tentunya akan membuat bank mengalami likuiditas yang cukup berat, jika ia mempunyai kredit macet yang besar.

Dari uraian di atas dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa, risko kredit muncul akibat dari bak tidak dapat memperoleh kembali tagihan atas pinjaman yang diberikan atau investasi yang sedang dilakukannya.

Sedangkan penyebab utama munculnya risiko ini adalah diakibatkan dari penilaian kredit yang kurang cermat serta lemahnya antisipasi terhadap berbagai resiko usaha yang dibiayai oleh bank tersebut.

Resiko ini dapat kita tangulangi dengan cara memberikan batas wewenang keputusan kredit bagi setiap aparat perkreditan beradasarkan kapabilitasnya atau autorize limit dan batas jumlah (pagu) kredit yang dapat diberikan pada usaha atau perusahaan tertentu atau credir line limit, dan melakukan diversifikasi.

  1. Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas ini dibagi kedalam dua kelompok, yakni risiko likuiditas dan risiko operasional. Berikut adalah penjelasan dari keduanya :

  • Risiko Likuiditas

Likuiditas merupakan pemicu utama kebangkrutan yang dialami oleh bank, baik itu bank besar maupun bank kecil. Bukan karena kerugian yang dideritanya, melainkan karena ketidak mampuan bank dalam memenuhi kebutuhan likuiditasnya.

Pengertian likuiditas secara luas adalah kemampuan bank dalam memenuhi kebutuhan dana atau cash flow dengan segera yang disertai dengan biaya yang sesuai. Likuiditas penting bagi bank untuk menjalankan transaksinya sehari-hari.

Contohnya seperti misal kesanggupan dalam mengatasi kebutuhan dana yang mendesak, memuaskan permintaan nasabah akan pengajuan pinjaman, serta memberikan flesibilitas dalam meraih kesempatan investasi menarik dan menguntungkan.

Likuiditas yang disediakan harus cukup, tidak boleh terlalu kecil sehingga akan menggangu kebutuhan oprasional sehari-hari, namun demikian persediaan likuiditas juga tidak boleh terlalu besar karena hal tersebut akan menurunkan efisiensi yang kemudian akan berdampak pada rendahnya tingkat profitabilitas bank itu sendiri.

Risiko likuiditas ini muncul manakala bank tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dana atau cash flow dengan segera, dan dengan biaya yang sesuai baik untuk memenuhi kebutuhan transaksi sehari-hari maupun untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak.

Besar kecilnya risiko likuiditas ini dipengaruhi atau ditentukan oleh beberapa hal berikut ini :

  1. Kecermatan perencanaan arus kas atau cash flow maupun arus dana atau fund flow berdasarkan prediksi pembiayaan dan prediksi pertumbuhan dana-dana, termasuk juga mencermati tingkat fluktuasi dana-dana atau volatility of funds.
  2. Ketepatan dalam mengukur strutur dana-dana termasuk kecukupan dana-dana non bagi hasil.
  3. Ketersediaan aset yang siap dikonversikan menjadi kas.
  4. Kemampuan menciptakan akses ke pasar antara bank atau sumber dana lainnya, termasuk didalamnya fasilitas lender of last resort atau pemberian pinjaman terakhir.
  • Risiko Operasional

Menurut definisi Basle Committee, yang dimaksud dengan risiko operasional adalah risiko akibat dari kurangnya deficiencies sistem informasi atau sistem pengawasan internal yang akna menghasilkan kerugian yang tidak diinginkan.

Risiko ini lebih erat dengan adanya human error atau kesalahan oleh manusia, kegagalan sistem dan ketidak cukupan prosedur dan kontrol. Dalam penjelasan ini kita jumpai semua jenis komponen yang relevan dengan risiko oprasional antaralain :

  1. Sistem informasi,
  2. Pengawasan internal,
  3. Kesalahan manusiawi atau human error,
  4. Kegagalan sistem dan,
  5. Ketidakcukupan prosedur dan kontrol.

Muhammad Al Faisal menyatakan bahwa khususnya bagi Bank Islam, yang sangat diperlukan adalah : good governance, transparancy, and accounting standard. British Banker Association pada tahun 1997 melaporkan bahwa 69% responden menyatakan bahwa risiko oprasional lebih penting daripada risiko pasar dan rsiko pembiayaan.

Manajemen oprasional meupakan area dimana industri-industri, sektor-sektor yang penting, dan para kompetitor betul-betul berkemauan untuk membagi informasi dan ide-idenya.

Setiap industri sebagai lembaga individu, untuk mencapai sukses memerlukan lingkungan dan ekonomi yang stabil. Dan salah satu faktor yang dapat menggangu adalah kegagalan bank, diaman bila kegagalan itu adalah akibat dari kelemahan kontrol operasional, maka akan mengakibatkan turunya kepercayaan nasabah dan reputasi industri perbankan bisa hancur.

Demikianlah penjelasan dari kami mengenai Manajemen Risiko Bank Syari’ah. Semoga bermanfaat dan membantu para pembaca sekalian, tak lupa kami ucapkan terimakasih atas kunjungannya di akuntanonline.com.

Sumber :
Muhammad, Manajemen Bank Syariah. Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2003 hal 130-133.