Buku Besar Pembantu Piutang Perusahaan Dagang

Pengertian Buku Besar Pembantu Piutang

Adanya  buku besar pembantu sangatlah diperlukan bagi perusahaan dagang yang memiliki banyak transaksi seperti utang dan piutang.

Mungkin sebagian dari kalian ada yang bertanya-tanya, apakah sama antara buku besar biasa dengan buku besar pembantu piutang.?

Nah, untuk penjelasan mengenai buku besar, kalian bisa membaca nya pada artikel kami yang berjudul pengertian buku besar, fungsi dan tujuannya.

Adapun  penggunaan dari buku besar pembantu piutang ini ialah akan membantu perusahaan dalam memberikan kemudahan informasi tentang adanya piutang pada perusahaan yang bersangkutan.

Tahapan Mencatat Transaksi dalam Buku Pembantu Piutang

Mungkin sebagian anda ada yang bertanya-tanya, apakah sama buku besar pembantu hutang dengan buku pembantu piutang.?

Pada dasarnya catatan dari kedua buku besar pembantu ini bersifat sama, Perbedaannya terletak pada objek yang meminjam atau dipinjam.

Jika pada pencatatan buku besar pembantu hutang mencatat pihak kepada siapa perusahaan memiliki hutang. (Contoh Laporan Keuangan Perusahaan Jasa)

Sedangkan buku besar pembantu piutang mencatat pihak yang meminjam kepada perusahaan.

 Adapun sumber bukti transaksi pada pencatatan buku pembantu piutang terdiri dari :

  1. Faktur penjualan
  2. Bukti penerimaan kas, untuk bukti penerimaan tagihan atau piutang
  3. Nota debit atau kredit, merupakan sebagai retur penjualan atau bukti pengurangan harga.

Contoh Transaksi Buku Besar Pembantu Piutang

Sebagai contoh berikut ini adalah gambaran transaksi dari data kegiatan MINI Advertising pada bulan Juli 2017

1.Data piutang kepada debitur atau pihak penjamin pada tanggal 1 Juli 2017 :

Contoh Transaksi Buku Besar Pembantu Piutang
Contoh Transaksi Buku Besar Pembantu Piutang

2.Berikut ini adalah transaksi yang berlangsung di MINI advertising pada bulan Juli 2017 :

Contoh Transaksi Buku Besar Pembantu Piutang

3. Penerimaan piutang dari para debitur

Contoh Transaksi Buku Besar Pembantu Piutang

Maka pencatatan pada data di atas adalah sebagai berikut :

  1. Piutang yang ada pada tanggal 1 Juli 2017 senilai Rp.12.100.000,- dicatat pada posisi debit dengan nama akun piutang usaha dalam buku besar, sedangkan rincian dari transaksi piutang tersebut dicatat dalam buku besar pembantu piutang.
  2. Seluruh faktur penjualan dicatat dalam buku jurnal dengan nama akun piutang usaha senilai Rp.500.000,- pada tanggal 31 Juli 2017. Setiap faktur penjualan juga harus dicatat kedalam buku pembantu piutang dengan mendebit rekening debitur yang berkaitan.
  3. Semua bukti penerimaan kas dari debitur dicatat dalam buku jurnal penerimaan kas. Yang mana pada tanggal 31 Juli 2017 akun piutang usaha pada buku jurnal tersebut berada pada posisi kredit hal ini karena mengurangi piutang usaha sebesar Rp.17.700.000,- juga harus dicatat pada masing-masing bukti penerimaan kas, dengan mengkreditkan rekening debitur yang bersangkutan.

Melihat pada pencatatan transaksi yang ada di atas, maka kita dapat membuat buku besar pembantunya sebagai berikut :

Buku Besar Pembantu Piutang

Keterangan akun piutang pada kolom di atas :

  1. Pada kolom referensi/Ref kita tulis JPn-1 dan JKM-1, maksudnya adalah transaksi tersebut telah dicatat dalam jurnal khusus yakni dalam buku jurnal penjualan/JPn halaman 1 dan buku jurnal penerimaan kas/JKM pada halaman 1.
  2. Akun piutang usaha pada tanggal 31 Juli 2017 memperlihatkan saldo debit sebesar Rp.9.900.000,- yang mana jumlah tersebut haru sama dengan jumlah piutang pada buku pembantu piutang di tanggal yang sama.
Buku Besar Pembantu Piutang
Buku Besar Pembantu Piutang

Penyusunan Daftar Saldo Piutang :

Berdasarkan pada data buku besar pembantu piutang per tanggal 31 Juli 2107 di atas, maka kita peroleh saldo piutang sebagai berikut :

Penyusunan Daftar Saldo Piutang

maka kita dapati, jumlah saldo piutang pada daftar saldo piutang menunjukan jumlah yang balance atau seimbang antara buku besar umum yakni akun piutang usaha dengan buku besar pembantu piutang  per tanggal 31 Juli 2017 adalah senilai Rp.9.900.000,-.

Pencatatan Selisih pada Saldo Akun  Piutang

Apabila terjadi sebuah selisih antara akun piutang usaha dengan nominal pada jumlah buku pembantu piutang bisa terjadi sebab akibat dari adanya dua kemungkinan, yakni :

  • Kesalahan mencatat dalam buku jurnal umum.
  • Kesalahan mencatat dalam buku pembantu piutang.

Dan apabila hal tersebut terjadi, maka seorang akunting perlu membuatkan sebuah catatan jurnal koreksi yang dibuat dalam jurnal umum. Yang selanjutnya kesalahan tersebut harus dibetulkan juga dalam buku pembantu piutang dengan melakukan pendebitan atau mengkredit rekening debitur yang bersangkutan.

Nah, itulah penjelasan dari kami akuntanonline.com mengenai “Buku Besar Pembantu Piutang pada Perusahaan Dagang”. Semoga bermanfaat serta membantu para  pembaca sekalian dan terimakasih telah berkunjung ^^.

Kunjungi artikel lainnya :